Bismillahhirrahmanirrahim. Assalamualaikum wbt. Aishah rasa lama sangat tidak post ilmu dalam blog ini. Kali ini,Aishah ingin kongsikan sebuah kisah mengenai sahabat nabi. Kisah ini Aishah dapat melalui satu program Usrah Professional. Sesuai untuk bacaan kita yang diamanahkan oleh Allah dimuka bumi ini untuk menyebarkan agama Islam. Aishah harap sahabat sekalian dapat mengambil iktibar dari kisah ini. Selamat membaca. Niatkan ikhlas kerana Allah ^_^Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang.Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik.Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya,setelah turunnya pengampunan Allah atas dosanya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah SAW,kecuali dalam perang Tabuk.Perihal aku tidak turut serta dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia,ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.Demi Allah,aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan unta,akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.
Sungguh,tidak pernah Rasullah SAW merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah SAW lakukan dalam keadaan matahari panas terik,gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh.Jadi,rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.
Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan yang akan berangkat.Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya,lalu aku berkata dalam hati,
“Aku bisa melakukannya kalau aku mahu!”
Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka,kerana mereka belum jauh.Namun,aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.
Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut.Akan tetapi,sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah SAW meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah,apabila aku jumpa mereka (orang yang tidak ikut serta dalam peperangan) di jalan-jalan,aku merasakan diriku ini terlalu kecil sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya.Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau izin Allah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik.Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.
Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk.Setibanya di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya.
“Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah menjawab,
“Ya Rasulullah,dia ujub pada keadaan dan dirinya!”
Mu’az bin Jabal menyangkal,
“Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah,aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”
Rasulullah SAW hanya terdiam saja.
Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah SAW kembali dari kancah jihad Tabuk.Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah SAW bagaimana caranya supaya Rasulullah tidak marah padanya?Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik.Akan tetapi,ketika aku mendengar Nabi SAW segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah SAW dan mengatakan dengan tidak sebenarnya.
Pagi-pagi, Rasulullah SAW memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan,kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan solat dua rakaat. Demikian pula,selesai solat beliau kemudian baginda duduk melayani tetamunya. Lantas,datanglah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselangi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka.Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah SAW menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku,aku datang mengucapkan salam kepada baginda.Baginda membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah.Baginda kemudian berkata,
“Kemarilah!”
Aku pun menghampirinya,lalu duduk di hadapannya.Baginda tiba-tiba bertanya,
“Wahai Ka’ab,mengapa dirimu tidak ikut?Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”
Aku menjawab,
“Ya Rasulullah! Demi Allah.Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun,demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku,aku risau Allah akan membenciku.Kalau kini aku bicara jujur,kemudian kerana itu engkau marah kepadaku,sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku.Ya Rasululah SAW,demi Allah,aku tidak punya uzur.Demi Allah,keadaan ekonomiku aku tidak pernah stabil disbanding tatkala aku mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata,
“Kalau begitu,tidak salah lagi.Kini,pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”
Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada,
“Demi Allah.Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini.Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain,padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”
Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah SAW untuk membawa alasan palsu,sebagaimana orang lain melakukannya.
Aku bertanya kapada mereka,
“Apakah ada orang yang senasib denganku?”
Mereka menjawab,
“Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat.Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”
Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”
Mereka menjawab,
“Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan dua nama orang soleh yang pernah ikut dalam perang Badar dan yang patut dicontohi.Setelah mereka menyebutkan dua nama orang itu,aku bergegas pergi menemui mereka.
Tak lama setelah itu aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga,di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.
Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum.Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya.Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka.Aku keluar untuk solat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku.Aku juga datang ke majilis Rasullah SAW sesudah beliau solat.Aku mengucapkan salam kepada beliau,sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau,
“Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”
Aku juga solat dekat sekali dengan beliau.Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau.Kalau aku bangkit mahu solat,baginda melihat kepadaku.Namun,apabila aku melihat kepadanya,baginda palingkan mukanya cepat-cepat.Sikap dingin masyarakat kepadanya,baginda palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali. Pada suatu hari,aku mengetuk pintu pagar Abu Qaradah,saudara misanku dan dia adalah saudara yang paling aku cintai.Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah,dia tidak menjawab salamku.
Aku menegurya,
“Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah,apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”
Dia diam.Aku mengulangi permohonanku itu,namun ia tetap terdiam.Aku mengulangi permohonanku itu,namun dia tetap diam.Aku mengulanginya sekali lagi, tapi dia hanya menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak tertahankan lagi.Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.
Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinah.Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam.Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah.Dia bertanya,
“Siapakah yang mahu menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”
Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan.Setelah kubuka,isinya sebagai berikut,
“… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu,
“Ini juga salah satu ujian!”
Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.
Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya,
“Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi isterimu!”
Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya,
“Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”
Ia menjelaskan,
“Tidak.Akan tetapi,kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”
Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama.Aku langsung memerintahkan kepada isteriku
“Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya,
“Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu.Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”
Rasulullah saw. menjawab,
“Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan,
“Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi.Demi Allah,yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”
Ada seorang familiku yang juga mengusulkan,
“Cuba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya isteri Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas,
“Tidak.Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah SAW tentang isteriku.Apa katanya kelak,sedangkan aku masih muda?”
Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah.Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang solat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang dudung berzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini.

Tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!
"Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!"
Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah.Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan.Aku yakin,Allah telah menurunkan ampunan-Nya.
Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya selesai solat subuh bahawa Allah telah mengampunkan aku dan dua orang sahabatku.Maka,berlumba-lumbalah orang mendatangi kami,hendak menceritakan berita germbira itu.Ada yang datang dengan berkuda ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda.

Sesudah keduanya sampai di hadapanku,aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki.Demi Allah,saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.
Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah.Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku.Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian,
“Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”
“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.
“Bukan dariku! pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasulullah SAW.
Demi Allah,aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku,lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah SAW.
Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bagaiman setelah membaca kisah di atas?
Sekarang kita hubungkan dengan kehidupan saat ini.Kalau Ka’ab bin Malik absen dari perang,kalau kita saat ini kita hubungkan dengan amanah-amanah kita. Bagaimana sikap kita ketika mendapat seruan untuk dakwah?Bagaimana sikap kita ketika mendapatkan amanah?Apakah kita sudah bersedia untuk melaksanakannya? Ataupun sebaliknya kita merasa enggan, malas dan akhirnya tidak bertindak seperti kisahnya Ka’ab bin Malik itu?
Keadaan yang dialami Ka’ab bin Malik saat itu adalah contoh keadaan ketika keimanannya Ka’ab bukan termasuk golongan orang munafik yang menguzurkan dirinya untuk tidak ikut perang dengan berbagai alasan.Tetapi beliau jujur kepada Rasulullah dan menyedari kesalahannya dan bertaubat.Beliau segera bangkit dan ikhlas menerima hukuman apapun.Bagaimana dengan diri kita?Apakah kita akan menguzurkan diri kita dengan berbagai alasan ketika kita diberi amanah,padahal alasan sebenarnya karena kemalasan kita.Apakah kita akan menyalahgunakan kepandaian kita untuk membuat-buat alasan.Apakah kita sering datang usrah tanpa alasan yang syar’i karena kita malas atau mendahulukan yang lain yang tidak penting.Atau mungkin datang tapi sengaja lambat karena menunda-nunda pergerakannya tanpa ada uzur apapun.Padahal dalam sebuah ayat Al Qur’an, kita disuruh untuk berangkat jihad dalam keadaan merasa berat maupun ringan.
Sahabat sekalian,Allah telah memberi amanah kepada langit dan gunung sebelum amanah itu diberi kepada kita. Tetapi,apa yang mereka katakan?
"Ya Allah,aku takut tidak dapat pikul amanah ini dengan baik"
Oleh itu,Allah memberi amanah kepada manusia sekalian alam,siapa lagi kalau bukan kita. Aishah dan sahabat yang sedang membaca. Jalankan amanah itu dengan sebaik mungkin. Sepatutnya kita rasa gembira dan enjoy kerana kita mewarisi tugas para nabi! Rasulullah menyuruh penduduk Madinah memboikot Ka'ab bin Malik hanya kerana dia tidak menyertai tentera islam berperang di medan Tabuk. Sedangkan,dia tidak pernah miss walau satu pun peperangan bersama Rasulullah. Adakah kita ingin diboikot sebegitu? Apabila seseorang itu tidak dapat menjalankan amanah,dia mesti dipulaukan. (sebagai pengajaran)Renung-renungkanlah kisah ini. Tepuk dada tanya Iman!!
Ka'ab bin Malik


